Pendidikan Holistik hingga Ekologi Islam: Lima Orasi Ilmiah Guru Besar UIN STS Jambi

Berita 5 menit baca 369 kali dilihat
Pendidikan Holistik hingga Ekologi Islam: Lima Orasi Ilmiah Guru Besar UIN STS Jambi

Lima guru besar yang dikukuhkan menyampaikan orasi ilmiah dengan menarik dan semangat. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengukuhkan lima guru besar pada Rabu (14/5). Acara pengukuhan berlangsung di Auditorium Chatib Quzwain, dihadiri sivitas akademika dan tamu undangan penting.

Setiap guru besar yang dikukuhkan menyampaikan orasi ilmiah menarik sesuai bidang keilmuannya masing-masing. Diawali dengan Prof. Iskandar, S.Ag, M.Pd, M.Si, MH, Ph.D., Ia Lahir di Kerinci, Desa Ujung Pasir 24 Desember 1975, adalah Putra ke 3. Guru Besar Psikologi Pendidikan Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan juga Founder Kecerdasan Ruhiologi/ Ruhiology Quotient (RQ) menempuh pendidikannya dimulai dari SDN 105/III Ujung Pasir (1980 s/d 1987); SMPN Tanjung Tanah (1987 s/d 1990); MAN Sebukar (1990 s/d 1993); S1 Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN STS Jambi (1994 s/d 1998); S2 Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Padang (2003 s/d 2005); S2 Sistem Informasi Dinamika Bangsa Jambi (2016 s/d 2018); S2 Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Batanghari (2019 s/d 2022); S3 Psikologi Pendidikan Universitas Kebangsaan Malaysia (2005 s/d 2009).

Prof. Iskandar membuka orasi ilmiah dengan tema pendidikan holistik abad 21. Ia mengangkat pentingnya restorasi “ruhiologi” dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Kemajuan teknologi telah mengubah pola pendidikan dan kehidupan secara drastis, membawa dampak positif dan negatif. Internet, AI, dan pembelajaran daring mempermudah akses, namun juga mengancam pola pikir dan pola hidup.

Menurutnya, krisis identitas, spiritualitas, dan lingkungan muncul akibat penyalahgunaan teknologi yang masif. Hoaks, kecanduan gadget, plagiarisme, dan judi online menjadi indikasi lemahnya pembentukan karakter. Ia menekankan perlunya integrasi spiritualitas (RQ) dalam pendidikan menuju Generasi Emas yang sadar nilai.

Prof. Alfian, S.Pd, M.Ed, Ed.D, adalah sosok akademisi visioner yang telah mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (TEFL). Lahir pada 3 Januari 1974 di Kerinci, Prof. Alfian tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai ketekunan, kejujuran, dan cinta ilmu. Semangat belajar yang tinggi dan menyenangi Bahasa Inggris telah membawanya menapaki jenjang pendidikan tinggi, mulai dari S1 di Universitas Jambi, S2 Master of Education di University of Hawai`i, USA hingga meraih gelar Doctor of Education   dari Flinders University, Australia.

Orasi ilmiah ini, Ia mengangkat tema pembelajaran bahasa Inggris melalui strategi digital dan AI. Ia menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris untuk menghadapi tantangan global abad 21.

Ayat 13 Surah Al-Hujurat menjadi dasar pentingnya interaksi antarbangsa melalui bahasa.
Sehingga dengan strategi digital mempermudah pembelajaran bahasa asing secara adaptif, efektif, dan menyenangkan.

Prof. Dr. Bahrul Ulum, MA, lahir di Desa Pulau Kecil, 27 Juli 1970, adalah putra ke enam dari pasangan H.Bustamin dan Hj.Nadirah.

Ayah dari 3 orang anak atas nama: Muhammad Fadhli Mubarak,S.T, Afifah Nabila Afdhalia,S.E dan Muhammad Mu’tashim Billah, adalah alumni Fakultas Syariah IAIN STS Jambi pada1994. Gelar Magisternya di peroleh di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah  Jakarta pada tahun 2001 dengan beasiswa dari Kemenag RI. Sedangkan gelar doktornya diperoleh di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2012.

Dalam orasi ilmiah, Ia membahas siyasah syar’iyyah kontemporer dan kemaslahatan ekologis umat. Ia menegaskan krisis lingkungan harus disikapi dengan pendekatan spiritual dan etis, bukan teknis semata.

Memelihara lingkungan adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh.
Islam menawarkan solusi holistik terhadap krisis lingkungan dengan nilai keberlanjutan dan keadilan ekologis. Kesadaran ekologis harus dibangun melalui edukasi, dakwah, kebijakan, dan aksi konkret komunitas.

Prof. Dr. Minah Elwiddah, S. Ag, M. Ag, lahir di Jambi tanggal 7 September 1970. Riwayat pendidikan dasar dan menengahnya di tempuh di SDN No 47/IV Kota Jambi, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kota Jambi, Pondok Pesantren Darussalam Tegineneng Lampung Selatan, dan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kota Jambi.

Setelah menamatkan pendidikan sarjaanya di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Minah El Widdah, kemudian melanjutkan program Magister (S2)  di IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Dirosah Islamiyah, dan menyelesaikan program Doktor (S3) di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (UPI) Jurusan Administrasi Pendidikan.

Prof. Minnah memaparkan pentingnya efisiensi dalam manajemen pendidikan Islam. Efisiensi manajemen dapat meningkatkan mutu pendidikan Islam dan pencapaian tujuannya secara optimal.

Terakhir, Prof. Dr. D.I Ansusa Putra, Lc, MA, Hum, dilahirkan di Bangko pada tanggal 15 Desember 1986 adalah anak kedua dari pasangan Suhaibi, S.Ag., M.Si dan Salmah, S.Pd.I.

Sejak remaja, sosok yang kalem ini sudah terbiasa merantau. Menamatkan pendidikan dasar di salah satu SDN di Bangko, DI Ansusa merantau ke Pondok Pesantren Darul Hikmah, Pekanbaru (1999-2001). Lalu melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Koto Baru Padang Panjang (2001-2004). Tidak puas menempuh pendidikan di dalam negeri, DI Ansusa terbang ke Timur Tengah untuk meraih gelar Gelar sarjana pada Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Quran di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir (2004-2008).

Tidak lama setelah pulang dari negeri yang terkenal dengan Piramidanya, DI Ansusa langsung melanjutkan studi di Program Magister Pengkajian Islam kosentrasi Tafsir Hadis Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (2009-2011). Gelar doktornya pun diselesaikan di kampus yang sama, Program Doktor Pengkajian Islam kosentrasi Tafsir Hadis Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2014-2016).

Prof. DI Ansusa membahas kosmopolitanisme dalam perspektif Al-Qur’an. Ia mengangkat gagasan “Muslim Tanpa Masjid” sebagai upaya membebaskan masjid dari simbolisme kosong. Esensi masjid adalah pusat peradaban, bukan sekadar bangunan fisik atau sejarah diam. Masjid harus mengalirkan nilai ilahiyah ke seluruh aspek kehidupan masyarakat. Reaktualisasi nilai Qur’ani kosmopolit harus melibatkan akademisi, pemerintah, dan pengurus masjid.

Acara pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam membangun peradaban ilmu dan kesadaran nilai. UIN STS Jambi menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan keilmuan dan kontribusi untuk bangsa.

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.